Sore itu, tiba-tiba ayah dan ibu membangkitkan memori masa kecilku. Sebuah kisah dimasa aku masih tinggal di asrama. Anak kolong. Iya, aku adalah anak kolong. Anak seorang tentara yang hidup dalam kesederhanaan. Salah! Lebih tepatnya hidup dalam kekurangan. Dan ketika ibu mengingatkanku tentang masa itu, mengingatkan tentang masa sulit yang kami lewati bertiga, akupun mulai tak kuasa membendung air mata. Tapi bukan itu ceritaku sebenarnya karena aku tidak ingin menghiasi tulisan ini dengan air mata.
Dulu ketika aku masih tinggal di asrama, mungkin jika aku tidak salah, usiaku masih 6 tahun. Aku cukup baik mengingat semua cerita itu. Bahkan ketika kini aku menuliskannya, masih terlintas teramat jelas dalam benak ini betapa indahnya waktu itu. Semuanya. Aku masih ingat tugu garuda tempat aku perosotan, melihat terjun payung di lapangan, menembak burung di hutan bersama dengan ayah, garasi mobil bekas yang katanya berhantu, dan teman-teman mainku. Iya... ngomong-ngomong, apa kabarnya mereka? Sudah hampir 14 tahun aku tidak lagi bertemu dengan mereka semenjak aku dan keluargaku tinggal di rumah pribadi.



