Mei 23, 2012

Aku Tak Ubahnya Wanita Biasa

Diposting oleh Sabita Normaliya di 10.44 0 komentar
Engkau tercipta begitu sempurna
Bukti Kuasa Sang Penguasa Nirwana
____________________________________________________________________________

Wanita itu berhati lembut…nalurinya sebening titik titik embun di atas daun rerumputan…bila saat mentari bersinar…airnya jatuh menetes menyerap sampai di ujung bumi…menumbuhkan berjuta bijian menjadi tunas tunas muda yang hijau bersemi…

Wanita itu berperasaan halus…kehalusannya mampu merobohkan kekerasan bukit batu yang sombong…menjadikan hatinya laksana samudera akhir dari sungai sungai yang bermuara…

Wanita itu berjiwa kesatria…ketegaran hatinya bagai barisan batu karang di bibir pantai…tak luluh dari terjangan badai yang bergemuruh…tak gentar oleh hempasan gelombang laut pasang…dan tak bergeming dari buruknya angin musim barat…

Aku terpukau…memandang di kedalaman jiwanya…
Yang indah rupawan seperti bunga-bunga mekar di saat pagi menanti sinar harapan…

Wanita itu bisa berhati keras…bagai batu pualam di malam gelap…mampu melumatkan hati para kumbang-kumbang dalam sekejap…emosinya bagai gelombang…. mampu menggulung bahtera yang dilaluinya…

Wanita itu bisa menjadi angkara…seperti api yang berlidah panjang…kobarannya menghanguskan seluruh jiwa…menjadi debu-debu yang berhamburan diterjang deru angin yang mendesing
Aku menutup mataku saat memandang jiwanya…sehalus dan sekeras itukah hatinya…???
 
Wanita laksana kembang dan api…tak akan tersulut bila bara tiada di hati….harum semerbak menyelumuti bumi…Bila kembang selalu ada di hati…

Karya : Rasull abidin, 31 Des 2011.

April 15, 2012

Berkunjung ke Panti Werdha PANGESTI

Diposting oleh Sabita Normaliya di 22.52 0 komentar
Kembali menulis dengan cerita yang baru adalah sesuatu yang selalu aku inginkan dan juga aku dambakan. Setiap kalinya aku kembali ke duaniaku ini, dunia menulisku, dunia yang aku suka dan aku cintai ini, itu berarti aku sedang memiliki bahan untuk aku bagikan. Seperti malam ini, aku ingin berbagi tentang sesuatu.

Cerita ini berawal dari satu minggu sebelumnya yang aku telah dengan semangat 45 mendaftarkan diri menjadi partisipan dalam sebuah kegiatan sosial bertemakan "Enhance The Health Quality In Elderly People". Sebuah kegiatan tahunan milik salah satu lembaga di Fakultasku yang menarik dan berkesan. Bukan tanpa sebab lain aku mengikuti kegiatan ini jika aku memang terlalu menyukainya. Seperti halnya menulis, aku juga mencintai melakukan kegiatan sosial seperti ini.

April 11, 2012

teruntuk kamu di masa lalu

Diposting oleh Sabita Normaliya di 21.49 0 komentar
Malang, 11 April 2012

Dan malam-malamku tak lagi ada bayanganmu.
Dan hari-hariku kini telah terbebas dari ragamu.
Dan bahkan kini aku sudah tak mampu lagi mengusik keberadaanmu.
Antara Malang-Bandung, terpisahkan jarak dan waktu, 
tanpa lagi ada rasa rindu  

Dee
***

April 09, 2012

Dirgahayu TNI AU Swa Bhuana Paksa Ke-66

Diposting oleh Sabita Normaliya di 17.12 1 komentar
Pagi ini aku terbangun dengan lebih santai dan merasa hidup tanpa beban. Jelas saja, karena aku tidak lagi mengasapi tikus-tikusku di laboratorium farmakologi yang notabene aku harus siap dari rumah jam enam pagi. Tidak hanya itu, aku juga tidak lagi bingung dengan persiapan kegiatan kepanitiaanku. Ok, thats all enough!!!Semuanya sudah berakhir. Sudah berakhir? Benarkah? Tidak juga sih, bahkan bisa jadi aku sekarang sedang memulai blok baru kardiologi di mata kuliahku. Tapi ini memang tujuanku berada di Fakultas Kedokteran ini. Kuliah. 

Bukan ini ceritaku sebenarnya. Aku punya sebuah cerita yang akhir-akhir ini juga menjadi sesuatu yang aku suka. Apa itu? a n g k a t a n :)

Amanah untuk Ayahku

Diposting oleh Sabita Normaliya di 15.13 0 komentar
Kali ini aku ingin menuliskan cerita tentang ayah. Tidak banyak memang, tapi aku sengaja menuliskannya beberapa paragraf saja.

Foto disamping tampan, bukan? Jawab dengan jujur, atau kalau tidak kalian nanti akan dimintanya push-up dan jalan jongkok, hehe bercanda. Kutemukan foto usang ini terpajang di dinding dekat kamarku. Ok inilah sosok ayahku yang mungkin pernah aku selipkan dalam tulisan-tulisanku sebelumnya. Namanya Awito. Seorang anak Sulung dari enam bersaudara. Sebenarnya ayah memiliki kakak perempuan, tapi sudah pulang ke rahmatullah entah kapan tepatnya, akupun kurang tahu.

Ayah dilahirkan 53 tahun yang lalu di sebuah desa kecil di tengah-tengah Pulau Jawa. Iya, tepat sekali, ayahku lahir di Klaten, Jawa Tengah. Ceritanya panjang mengapa pada akhirnya ayahku mengenakan seragamnya itu. Perjuangannya kufikir memang pantas untuk berada diposisinya sekarang. Tapi, kali ini aku tidak ingin menceritakan perjuangan ayah dari awal. Karena kufikir, cerita itu tidak akan selesai dalam satu hari saja.

Tiada lain selain kata "aku bangga" memiliki ayah sepertimu, Yah. (eh sebentar, kok aku jadi pingin nangis ya) Maaf, aku memang paling sensitif dalam hal seperti ini, terlebih jika aku ingat akan sesuatu di masa lalu ayahku.

sepenggal harap

Diposting oleh Sabita Normaliya di 07.51 0 komentar
"Belum kupunya sebuah nama yang bisa aku sebut dalam sepertiga malam itu, tapi ada sepenggal harap untuk seorang penunggang burung besi"

Maret 26, 2012

cara mereka mendidik aku

Diposting oleh Sabita Normaliya di 16.38 0 komentar
Kini usiaku sudah memasuki angka dua puluh tahun. Sudah selama ini pula aku tinggal bersama dengan mereka. Ayah dan juga ibuku. Bagaimanapun juga, berapapun usiaku nanti, aku adalah tetap anak mereka. 

Aku terlahir dua puluh tahun yang lalu. Tepatnya seperti apa, aku belum pernah menanyakannya langsung pada ibuku. Yang jelas, aku sempat mendengar beberapa cerita dari saudara-saudaraku, bahwa kelahiranku sangatlah dinantikan. Betapa tidak, aku adalah cucu pertama dikeluarga besar kakek-neneku. Maklum, ibuku adalah anak tertua dikeluarga besar ini. Dua puluh tahun berlalu, yang aku ingat hanya sepenggal cerita dikala aku sudah memasuki bangku sekolah. Menurut banyak cerita yang tidak ku tahu kebenarannya, aku ini adalah sosok bocah yang nakal. Bahkan bisa dibilang sangat nakal. Aku bisa saja terbalik dari bak tempat aku mandi, kalau tidak salah, tanteku pernah bilang hal itu terjadi ketika aku masih belum bisa berjalan. Tidak cukup hanya itu, setelah aku memasuki bangku taman kanak-kanak, kejahilan dan kenakalanku semakin menjadi-jadi. Tanteku adalah salah seorang yang sangat phobia dengan binatang melata, khususnya cicak. Karena aku sangat tahu ketakutan tanteku itu, bukan aku menjauhkannya dari hadapan tante, tapi aku malah senang mengganggunya dengan sesekali melemparkan cicak kearahnya. Dan apa kalian tahu, kejahilanku itu tidak jarang membuat tanteku jatuh pingsan.

Maret 23, 2012

Mr. Dee

Diposting oleh Sabita Normaliya di 07.59 0 komentar
Resah Dan Gelisah... Menunggu Disini
Disudut Sekolah...
Tempat Yang Kau Janjikan
Ingin Jumpa Denganku
Walau Mencuri Waktu...
Berdusta Pada Guru

Malu Aku Malu Pada Semut Merah
Yang Berbaris Di Dinding
Menatapku Curiga
Seakan Penuh Tanya... Sedang Apa Disini ?
Menanti Pacar Jawabku

Sungguh Aneh Tapi Nyata Tak'kan Terlupa...
Kisah Kasih Disekolah... Dengan Si Dia
Tiada Masa Paling Indah... Masa-Masa Disekolah
Tiada Kisah Paling Indah... Kisah-Kasih Disekolah
 
Kisah Kasih di Sekolah- Obbie Mesakh 
------------------------------------------------------------------------------
 
Deretan kalimat yang tersusun rapi di atas cukup membuat aku tergugah dan kembali ingin kemasa itu.  Masa-masa sekolah, masa putih abu-abuku. Dua tahun kukira sudah cukup lama untuk aku tidak lagi merasakan pahit manisnya cerita SMA, dan kini akupun mulai merindukannya. Disini aku tertawa, disini aku juga menangis, dan disini, ditempat ini, aku juga sempat jatuh cinta.

Februari 02, 2012

aku pernah di sana

Diposting oleh Sabita Normaliya di 20.45 0 komentar
Pagi ini aku terbangun lebih awal dari hari-hari biasanya. 05.30. Hehe bagiku ini masih pagi. Maklum ini liburan, jadinya sifat malasku kambuh. Pagi ini aku lantas terbangun karena dibangunkan ibu dan dimintai tolong mengantarkan ayah ke dokter di kantor. Kenapa lagi ayah, ucapku dalam hati sembari bangun dengan setengah hati. 

Aku bergegas mandi dan berdandan sepantas mungkin. Jelas saja, hari ini aku akan mengojeki ayah ke kantor yang notabene lingkungan militer yang disiplin. Beberapa saat berselang setelah bersiap-siap akhirnya kamipun berangkat. Kawan, apa yang ada di dalam pikiran kalian? Apa kalian tahu kalau saat itu aku harus membonceng ayahku yang tinggi besar itu? Aku tidak bisa membayangkan aku dengan motor matik mengojeki ayah ke kantor. Dengan hati-hati aku mengendarainya dan akhirnya kamipun tiba dengan selamat tidak kurang satupun di kantor ayah.

 

Kembang Gula Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea